Kabur dari Candu, Rayu Media Sosial

Ada seorang teman yang bertanya, bagaimana cara agar kita tidak ketergantungan terhadap media sosial? Dia merasa kalau hidupnya terlalu banyak dihabiskan dengan berkutat dengan media sosial. Awalnya cari kesenangan, hiburan, atau mengisi waktu senggang tapi berujung dengan tekanan jiwa. Menurutnya media sosial sudah dipenuhi para netizen julid dan nyinyir yang haus akan panggung sandiwara. Lalu bagaimana cara keluar dari ketergantungan media sosial sedangkan media sosial itu sendiri mengandung banyak godaan yang menggiurkan.

Pertanyaannya adalah seberapa lama kita menghabiskan waktu melakukan kegiatan dengan sosial media?

Jika kita hanya menghabiskan waktu satu hingga dua jam saja, hal tersebut masih dalam kategori kewajaran. Namun jika kita menggunakan media sosial lebih dari dua jam per hari bisa saja menimbulkan tekanan psikologis dan juga gangguan bagi kesehatan, baik fisik maupun mental. Oleh karena itu menurut para ahli, waktu dua jam dianggap sebagai batas aman dalam penggunaan media sosial.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kita bisa lepas dari ketergantungan terhadap sosial media diantaranya adalah:

1. Perhatikan orang di sekelilingmu dan berinteraksilah dengan meraka

Orang-orang terdekat kita seperti keluarga dan sahabat karib bisa menjadi penyelamat kita dari ketergantungan akan media sosial. Kalau kamu adalah seorang anak yang masih punya orangtua, maka bersyukurlah. Maksudnya adalah bersyukur masih punya orangtua yang bisa diajak bicara, diskusi atau bercengkerama. Kalau kamu seorang suami/isteri, maka perbanyaklah berinteraksi dengan meraka. Misal suami/isteri ini pun sudah punya anak, maka bermainlah dan habiskan waktu beberapa saat bersama mereka. Kalau kamu anak kosan yang sedang merantau di negeri orang, pastinya ada teman atau sahabat yang bisa diajak berinteraksi secara langsung. Jadi upayakan banyak interksi dengan mereka.

2. Face to face Communication

Sosial media memang membuat kita menjadi mudah untuk berinteraksi secara daring dengan orang-orang yang berada di belahan dunia lain. Namun jangan lupa face to face communication juga merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Minimal dengan berkomunikasi secara langsung ini kita bisa mengurangi aktivitas di sosial media. Ajak ngobrol lah temen-temen sekelasmu, satu sekolah atau kamu bisa menyambangi sekolah lain hanya untuk ngobrol dan mungkin bisa dapet pacar baru. (iih basi, sekarang mah jamannya dapet pacar dari FB, IG, Tiktok, dll). Oh gitu ya? Baiklah, berarti saya yang ketuaan. Gak masalah kalau dapet pacarnya dari sosial media. Tapi usahakan komunikasinya sering-sering kalau ketemuan langsung aja. Bayangkan orangtua jaman dulu kalau pacaran ngobrolnya pake surat pos, berapa lama itu surat bisa nyampe? Kadang berhari-hari, tapi coba kalau ditanya gimana rasanya mereka menunggu surat cinta itu, deg-degan luar biasa. Naah, kalian yang tinggal pencat-pencet tombol aja harusnya bisa ngurangin maenan sosial medianya.

3. Time is money

Ingat! Menurut para ahli, waktu yang wajar menggunakan sosial media adalah 2 jam per hari saja. Lalu ada pertanyaan lain yang muncul, “laah, saya kan kerjanya jadi admin sosmed akun jualan, terus kalau ga mantengin akunnya ga digaji dong?”. Jika memang membuka sosial media adalah bagian dari pekerjaan, memang tidak ada salahnya kita menghabiskan waktu lebih lama dibandingkan orang lain. Sebetulnya sama saja dengan bekerja di bidang apapun, pasti beban pekerjaan bisa menjadi memicu tekanan psikologi dan gangguan kesehatan. Artinya apa? Artinya kalau kamu menghabiskan waktu di media sosial lebih lama, tapi memberikan hasil berupa materi (baca:uang) untuk kamu atau keluargamu itu sah-sah saja. Kondisi yang perlu dihindari itu kan kalau kamu menghabiskan waktumu di media sosial hanya untuk scroll-scroll ga jelas di akun mantan, atau di akun gosip berjam-jam.

Namun ingat walaupun waktu adalah uang, yang artinya sangat bernilai untuk tidak disia-siakan dalam hidupmu, menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial hanya demi uang juga tidak baik. Tetaplah menyeimbangkan waktu untuk belajar, bekerja, beribadah, bercengkrama dengan keluarga dan teman, berlibur, dan berinvestasi dunia dan akhirat.

yokapramadi

Yoka Pramadi, a scholar, academic professional and lifelong learner, currently serves as a researcher at the Research Center for Society and Culture for the National Research and Innovation Agency (BRIN) in Jakarta, Indonesia. He finished Bachelor program from Padjadjaran University majoring Journalism and graduated from master degree program in Communication Science. Interests in Communication, Urban, Cultural and Development Studies

Next Post

Harmoni dalam Keragaman: Jejak Budaya Toleransi di Manado, Bali, dan Bekasi

Wed Feb 24 , 2021
Para penulis dalam buku ‘Harmoni dalam Keragaman’ ini mengajak pembaca untuk belajar dari pengelolaan keberagaman masyarakat di Bali, Bekasi, dan Manado. Ketiganya juga merupakan ikon daerah dengan kekayaan sejarah dan prestasi toleransi agama yang cukup mengagumkan. Kompleks Puja Mandala di Bali mengagumkan dengan harmoni tempat peribadatannya dan kehidupan umat yang […]

You May Like

Quick Links