
Kita sering mendengar istilah quiet quitting, di mana karyawan memilih bekerja seadanya tanpa ambisi. Namun, di lingkungan sektor publik yang memiliki aturan ketat, sering terjadi fenomena yang lebih senyap, yang saya sebut sebagai Quiet Firing. Ini adalah kondisi di mana seorang ASN secara perlahan kehilangan value dan makna pekerjaannya, hingga akhirnya ia “menghilang” dari orbit kinerja secara batiniah—meski raganya tetap di kantor.
Gejala di Ruang Publik: Dalam analisis saya, quiet firing ini berakar dari disonansi yang mendalam. Seorang ASN yang idealis dihadapkan pada rutinitas yang rigid atau lingkungan yang toxic (misalnya, atasan yang tidak mendukung inisiatif). Karena mekanisme resign di birokrasi sangat sulit, mereka memilih jalan tengah: bertahan secara legal, tapi “resigning” secara emosional. Tugas diselesaikan, tapi inovasi mati.

Apa Akibatnya bagi Komunikasi Publik? Ini adalah masalah komunikasi yang serius. Ketika seorang ASN mengalami quiet firing, kualitas pelayanan publik dan inovasi ide-ide segar (yang sangat Anda perjuangkan di BRIN) akan menurun drastis. Komunikasi internal menjadi kaku, dan inisiatif baru sulit dieksekusi karena tidak ada energi dari pelaksananya.
Solusi: Mengubah Narasi
- Untuk Pimpinan: Leadership bukan hanya soal memberi perintah, tapi memberi makna. Perlu komunikasi asertif, check-in mental, dan memastikan setiap tugas terhubung dengan impact yang lebih besar bagi masyarakat.
- Untuk Diri Sendiri: Jika Anda merasa terjebak, gunakan energi riset Anda. Identifikasi masalah tersebut, lakukan self-reflection (seperti yang kita bahas di kategori Kontemplasi), dan temukan proyek sampingan yang memberi Anda rasa mastery kembali, meski bukan di kantor.





