Generasi “Quiet Firing” di Birokrasi: Ketika ASN Kehilangan Makna dan Memilih Menghilang Pelan-Pelan

Kita sering mendengar istilah quiet quitting, di mana karyawan memilih bekerja seadanya tanpa ambisi. Namun, di lingkungan sektor publik yang memiliki aturan ketat, sering terjadi fenomena yang lebih senyap, yang saya sebut sebagai Quiet Firing. Ini adalah kondisi di mana seorang ASN secara perlahan kehilangan value dan makna pekerjaannya, hingga akhirnya ia “menghilang” dari orbit kinerja secara batiniah—meski raganya tetap di kantor.

Gejala di Ruang Publik: Dalam analisis saya, quiet firing ini berakar dari disonansi yang mendalam. Seorang ASN yang idealis dihadapkan pada rutinitas yang rigid atau lingkungan yang toxic (misalnya, atasan yang tidak mendukung inisiatif). Karena mekanisme resign di birokrasi sangat sulit, mereka memilih jalan tengah: bertahan secara legal, tapi “resigning” secara emosional. Tugas diselesaikan, tapi inovasi mati.

Apa Akibatnya bagi Komunikasi Publik? Ini adalah masalah komunikasi yang serius. Ketika seorang ASN mengalami quiet firing, kualitas pelayanan publik dan inovasi ide-ide segar (yang sangat Anda perjuangkan di BRIN) akan menurun drastis. Komunikasi internal menjadi kaku, dan inisiatif baru sulit dieksekusi karena tidak ada energi dari pelaksananya.

Solusi: Mengubah Narasi

  • Untuk Pimpinan: Leadership bukan hanya soal memberi perintah, tapi memberi makna. Perlu komunikasi asertif, check-in mental, dan memastikan setiap tugas terhubung dengan impact yang lebih besar bagi masyarakat.
  • Untuk Diri Sendiri: Jika Anda merasa terjebak, gunakan energi riset Anda. Identifikasi masalah tersebut, lakukan self-reflection (seperti yang kita bahas di kategori Kontemplasi), dan temukan proyek sampingan yang memberi Anda rasa mastery kembali, meski bukan di kantor.

yokapramadi

Yoka Pramadi, a scholar, academic professional and lifelong learner, currently serves as a researcher at the Research Center for Society and Culture for the National Research and Innovation Agency (BRIN) in Jakarta, Indonesia. He finished Bachelor program from Padjadjaran University majoring Journalism and graduated from master degree program in Communication Science. Interests in Communication, Urban, Cultural and Development Studies

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Satu Jam di Jalan Tol Jakarta: Kita Bukan Korban Macet, Tapi Laboratorium Riset Komunikasi Perkotaan

Mon Dec 15 , 2025
Pukul 07.30 pagi di Jalan Tol Jakarta. Mobil bergerak 5 km/jam. Sebagai warga urban, kita hanya bisa mengumpat dan menganggap diri sebagai korban dari kegagalan tata kota. Namun, sebagai seorang peneliti yang bergerak di urban communication, saya melihat kemacetan ini sebagai laboratorium riset yang mahal dan tak ternilai. Data yang […]

You May Like

Quick Links