Kita sering kali terbuai oleh narasi romantis dataran tinggi: udara sejuk, hamparan kebun teh yang hijau, dan kehidupan desa yang tampak tenang dari kejauhan. Namun, sebagai peneliti yang melihat langsung ke lapangan, saya menemukan ada lapisan realitas yang sering luput dari pandangan wisatawan—sebuah pertarungan diam-diam antara menjaga warisan alam dan desakan ekonomi.
Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena “viralitas” telah mengubah lanskap pedesaan kita secara drastis. Tempat yang dulunya sunyi, tiba-tiba dipadati pengunjung karena satu foto di media sosial. Di satu sisi, ini adalah berkah ekonomi. Namun, di sisi lain, ini adalah awal dari kerentanan ekologis dan sosial yang serius.
Konservasi vs Komodifikasi: Sebuah Dilema
Saat melakukan riset untuk buku terbaru saya, saya mendalami dinamika yang terjadi di kawasan seperti Kepahiang Mountain Valley. Pertanyaan besarnya bukan sekadar “bagaimana meningkatkan jumlah turis?”, melainkan “apa harga yang harus dibayar untuk itu?”.
Kita melihat pergeseran makna ruang hidup. Sawah dan kebun teh yang tadinya adalah ruang produksi dan identitas budaya, kini perlahan berubah menjadi komoditas visual semata. Di sinilah muncul kontestasi: tarik-menarik kepentingan antara masyarakat lokal, investor, pemerintah, dan alam itu sendiri.
Apakah pariwisata kita benar-benar memberdayakan, atau hanya mengeksploitasi estetika sampai habis manis sepah dibuang?
Hadirnya Buku “Dinamika Pariwisata Dataran Tinggi”
Berangkat dari kegelisahan dan temuan riset tersebut, saya bersama rekan-rekan penulis menghadirkan buku “Dinamika Pariwisata Dataran Tinggi: Konservasi, Komodifikasi, dan Kontestasi”.
Buku ini bukan panduan wisata. Ini adalah bedah kasus sosiologis dan tata kelola ruang bagi mereka yang peduli pada masa depan desa dan lingkungan kita. Kami mengupas bagaimana pariwisata dataran tinggi bisa menjadi pedang bermata dua, dan bagaimana kita (akademisi, pembuat kebijakan, dan masyarakat) seharusnya bersikap.
Buku ini kami tujukan untuk rekan-rekan akademisi, mahasiswa sosiologi, komunikasi dan pariwisata, serta para pengambil kebijakan yang tidak ingin terjebak pada euforia pembangunan sesaat.
Informasi Prapesan (Pre-Order)
Bagi Anda yang berminat mendalami diskursus ini, buku ini sudah dapat dipesan melalui skema Pre-Order dengan harga khusus.
- Judul: Dinamika Pariwisata Dataran Tinggi
- Penerbit: Deepublish
- Periode PO: s.d. 31 Januari 2026
- Harga Khusus: Rp 92.000 ~(dari Rp 115.000)~

Pemesanan dapat dilakukan melalui tautan di bawah ini atau menghubungi via WhatsApp. Mari kita diskusi lebih dalam mengenai masa depan pariwisata kita.



